Sabtu, 02 Januari 2010

Kehidupan Seorang Programmer

Seperti logika 1 = 1 atau 0 = 0, terkadang secara tidak langsung seorang cowok programmer komputer menggunakan logika ini dalam filosofi hidupnya sehari-hari. Selain memprogram suatu aplikasi, ternyata programmer juga cenderung memprogram otaknya sendiri. Biasanya dalam kehidupan sosial, seorang programmer yang “fanatik”-nya terhadap komputer sangat tinggi akan memiliki kesulitan dalam berkomunikasi. Bagaimana dengan urusan cinta? ada survey yang bilang kalau seorang maniak komputer ternyata memiliki tingkat kesetiaan tinggi sekali pada pasangannya! wah, sebenernya gimana seh jalan hidup seorang programmer “gila” seperti hacker, cracker, web coding, dst yang menghabiskan waktu siang-malam di depan komputer mereka ?

Seorang maniak komputer seperti Hacker, cracker atau apapun itu bentuknya cenderung setia pada komputer yang dipegangnya. Rasa Egoisme selalu ada tiap saat. Dimana seorang programmer selalu merasa waktu 24 jam sehari tidak cukup memuaskan pekerjaannya atau ilmunya. Hal ini mempengaruhi tingkah laku seorang programer dalam kehidupan sosialnya. Nah bagaimana dengan urusan cinta? bukankah seorang programer cowok dengan kehidupannya sibuk dengan fanatik tinggi pada komputer terkadang tidak memikirkan wanita? bener?

Berdasarkan pengalaman saya dan pengamatan saya terhadap beberapa programmer sejati. Secara komunikasi, hanya 30% yang benar-benar bisa berkomunikasi lancar di dalam lingkungan “love”. Kecenderungan programmer yang bersifat agak idealis dalam berbagai hal menyulitkan diriya sendiri dalam memilih wanita. Kebanyakan kasus, mereka asyik dengan dunia-nya hingga lupa bahwa ada makhluk terindah yang namanya wanita di bumi ini. Kenapa mereka tidak memikirkan wanita? seharusnya inikan menjadi keajaiban dunia! he.he.he.. Sebenarnya programmer cowok juga memiliki perasaan yang sama dengan cowok-cowok normal lainnya.Tetapi seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, hal ini terjadi juga pada programmer. Perhatian mereka bener-bener terserap untuk memuaskan hasrat terhadap mainan mereka yang bernama komputer! Terkadang ini yang paling dibenci oleh pacar / wanita yang berada disamping programmer. Kalo masalah tega-tegaan, seorang programmer rela untuk menghabiskan waktu seharian untuk membuat suatu program daripada menemani seorang cewek jalan-jalan ke mall, belanja, nonton bioskop, dst. Bagi mereka, kebanyakan hal tersebut dianggap kegiatan membuang “waktu percuma” saja.

Nah, bagaimana bila seorang programmer memiliki pasangan. Ini berdasarkan pengalaman saya yang mempunyai suami programmer dalam level fanatik, jumlah mereka ternyata lumayan banyak. Saya amati mereka dalam berpasangan. Dan hasilnya adalah mereka adalah pejuang cinta yang setia dan bodoh! kenapa dibilang setia? karena waktu mereka yang hampir tersita dengan komputer, pacaran dengan 1 orang merupakan memanfaatkan sisa-sisa waktu yang ada di pikirannya. Mereka tidak mau ambil pusing dengan menambah kesibukan baru dengan cinta yang baru. There is no time to do that game,dude! Kalo tindakan mereka yang menggagumi cewek cantik dan seksi yang seliweran di depan mereka itu merupakan hal yang biasa. Tetapi untuk mendekati cewek tersebut dan berkenalan, itu nanti dulu. Mereka cenderung malas untuk melakukan proses PDKT untuk selingkuh atau mencari pacar baru. Hal ini dianggap membuang waktu karena dia tahu betul butuh waktu dan perhatian untuk membangun hubungan dengan pacarnya yang sekarang. Dan mereka malas untuk mengulangi proses seperti itu lagi.salah satu hal yang melegakan para istri dari kasus perselingkuhan suami.

Bodoh? itu tentu saja. Lihat saja cewek/istri mereka yang marah-marah melihat tingkah laku sang programmer. Ketika mendapatkan ilmu baru, segera dia menuju meja komputer dan menghabiskan waktu seharian. Sementara ceweknya sudah dandan secantik cinderella akhirnya kecewa karena kecerdasan progammer yang mengelak dengan seribu satu alasan manis! Mau dapat cewek cantik, biasa, judes, manis atau apapun itu, mereka cenderung tidak mempermasalahkan. Asalkan cewek tersebut tidak mengganggu waktu indahnya dengan komputer maka programmer tersebut sah-sah saja mempertahankan hubungan mereka. Lebih bodohnya lagi, muncul kurang menghargai terhadap ceweknya sendiri. Ini terjadi karena penghargaan dia terhadap komputer yang besar melebihi apapun di dunia ini. Nah, kalo saya lihat pasangan programmer itu cenderung bertipe cerewet dan mudah marah. Lha, ini disebabkan karena programmer yang cenderung tidak merawat diri dan tidak menghiraukan nasehat-nasehat. “Sabar saja jadi cewek dia”dan tentu saja harus punya segudang acara untuk menyibukan diri tanpa bergantung pada pasangan dan bertemu hanya di saat yang tepat saja, ini muncul ketika saya ditanya tentang hubungan dan kenapa kok bisa tetap betah hubungan. Ha..ha…ha.. benar-benar lucu kehidupan seorang programmer, yang penting masih bisa saling mengisi kekosongan Tidak mungkin seorang programmer mengurangi kegiatannya karena hal ini tidak akan pernah dilaksanakan, bahkan dalam kondisi sakit sekalipun. Jadi saran saya kepada teman-teman fanatik komputer, ” tempatkanlah kegiatan fanatik-isme secerdas mungkin”. Masalahnya cuma di mengatur waktu saja! dan jangan pernah ingin jadi “otaku” ( maniak banget! ). Dan untuk pasangannya tidak usah repot-repot merubah sesuatu yang tidak akan berubah hanya perlu penyesuaian saja that’s all.

Jilbab Dalam Kehidupan Sosial

Sambil sama-sama menunggu pesawat, seorang teman lama ketemu dan ngajak ngobrol di ruang tunggu airport. Masih seperti dulu, ia sangat serius jika diajak bicara tentang Islam. Ia menyimpulkan bahwa Umat Islam di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini, tampak mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Kesimpulan itu didasarkan atas kenyataan, misalnya, sekarang kegiatan keagamaan bisa bebas tidak ada yang mencurigai lagi. Pendidikan Islam seperti pondok pesantren, madrasah sampai perguruan tinggi Islam telah mendapatkan perhatian pemerintah. Selain itu masjid dan musholla dibangun di mana-mana. Banyak terlihat wanita muslimah menggunakan jilbab ada di berbagai tempat, sampai-sampai di mall, hotel berbintang hingga di tempat-tempat yang tergolong elite pun biasa. Dulu gambaran seperti itu tidak akan pernah ditemui.

Melihat bersemangatnya pembicaraan tentang jilbab ini, saya menduga istri dan anak perempuannya, berpakaian seperti itu. Ia sedemikian simpatik terhadap pakaian wanita penutup aurat tersebut. Walaupun tidak berlatar belakang pendidikan agama, dia sedemikian senang melihat di mana-mana wanita pakai jilbab. Baru saja ia melihat wanita mengemudi bus kota, juga mengenakan jilbab. Perhatian teman saya ini terhadap pakaian kaum muslimah ini sedemikian besarnya. Saya mencoba bertanya, apa yang menarik dari pakaian itu. Ternyata, ia memiliki alasan yang sangat mendasar. Jilbab menurutnya bukan sebatas simbol atau identitas biasa.

Jilbab baginya adalah merupakan petunjuk ketaatan seseorang muslimah terhadap perintah agamanya. Keikhlasan memakai jilbab menunjukkan bahwa pemakainya dalam setiap waktu selalu ingat pada Tuhan yang memerintahkannya berpakaian demikian. Jilbab kemudian menjadi bagian dari dzikir seseorang muslimah, yang seharusnya dilakukan pada setiap waktu. Berpakaian jilbab tidak boleh dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu, sebagaimana juga ingat Allah tidak hanya dilakukan saat-saat tertentu saja. Berdzikir harus dilakukan pada setiap saat. Demikian pula, berpakaian seharusnya mengikuti dzikirnya.

Teman saya tadi juga meneruskan penjelasannya bahwa pakaian jilbab, setidak-tidaknya akan berpengaruh terhadap perilaku wanita yang bersangkutan. Dia yakin bahwa jika jilbab itu dikenakan secara ikhlas atas dasar niat mengikuti perintah agamanya, pakaian itu akan sekaligus menjaga perilaku pemakainya. Tidak akan mungkin wanita berpakaian jilbab berani melakukan apa saja sebatas untuk mengikuti hawa nafsunya. Setidak-tidaknya wanita yang berpakaian muslimah akan merasa malu dengan dirinya sendiri, jika melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa jika kaum wanita terjaga, maka sesungguhnya masyarakat akan dengan sendirinya terjaganya pula. Dengan mengutip hadits Nabi, ia menjelaskan bahwa baik buruhnya sebuah keluarga, masyarakat, dan bahkan negara akan sangat tergantung pada perilaku kaum wanitanya. Jika para wanita di sebuah wilayah mampu menjaga diri, dan rasa malu, maka masyarakat di wilayah tersebut akan menjadi baik dan begitu juga sebaliknya. Wanita adalah kunci kehidupan masyarakat.

Sekalipun ia tahu bahwa saya adalah pimpinan perguruan tinggi Islam, tetapi karena didorong oleh semangat dan keyakinannya itu, ia menjelaskan tentang peran dan posisi wanita di tengah-tengah masyarakat sedemikian panjang. Dia mengatakan bahwa bangsa ini akan sulit meraih kemajuan dalam pengertian yang sesungguhnya, yakni beradab dan berakhlak tinggi, jika tidak mampu mengendalikan kebebasan para wanita-wanitanya. Ia mengutip hadits Nabi, bahwa wanita itu bagaikan sekolah atau madrasah. Sebuah sekolah atau madrasah yang baik maka murid-muridnya akan baik. Jika murid-murid madrasah itu baik, maka lulusannya akan menjadi baik.

Ia kemudian juga mengutip hadits lain. Pernah pada suatu ketika Rasul ditanya oleh seorang sahabat, siapa orang yang paling utama untuk dihormati. Maka oleh Rasul dijawab : ibumu. Pertanyaan itu diulang hingga tiga kali, dan dijawab oleh Rasul dengan jawaban yang sama. Baru tatkala pertanyaan itu diulang pada yang ke empat kalinya, dijawab, ayahmu. Ini menggambarkan, bahwa betapa ibu atau wanita harus dimuliakan, dan karena itu bentuk pakaian wanita pun harus menggambarkan kemuliaan itu.

Agak lama ketika itu sama-sama menunggu pesawat di airport, tetapi pembicaraan tentang itu sepertinya tidak selesai. Sekalipun sudah ada panggilan agar seluruh penumpang masuk pesawat, ia masih menambahkan pembicaraannya, bahwa negeri ini akan maju dan berhasil meraih kehidupan yang damai, selamat, dan sejahtera jika berhasil membangun kharakter atau akhlaknya. Sedangkan kunci keberhasilan membangun akhlak, yang lebih utama, adalah terletak pada kaum wanita. Oleh karena itu dengan semakin banyaknya para wanita mengenakan jilbab di berbagai tempat di negeri ini, ia merasakan kegembiraannya. Sekalipun, ia juga sedih tatkala sebaliknya, melihat banyak wanita yang justru mengumbar auratnya. Wanita yang demikian, dia akui, mungkin oleh sementara orang dianggap menarik, tetapi sesungguhnya kurang terhormat. Wallahu a’lam.

Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Pengertian kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Unsur-unsur

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
  • alat-alat teknologi
  • sistem ekonomi
  • keluarga
  • kekuasaan politik

2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
  • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
  • organisasi ekonomi
  • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
  • organisasi kekuatan (politik)
Wujud dan komponen

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
• Gagasan (Wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
• Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling beriteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

• Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Komponen

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

• Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

• Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Hubungan antara unsur-unsur kebudayaan

Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:

Peralatan dan perlengkapan hidup ( Teknologi )

Teknologii menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.

Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
• alat-alat produktif
• senjata
• wadah
• alat-alat menyalakan api
• makanan
• pakaian
• tempat berlindung dan perumahan
• alat-alat transportasi


Becak Yang Menjadi Dilema

Perdebatan tentang becak berkisar pada dua posisi yang saling bertentangan. Penguasa, di satu pihak, menggunakan paradigma tahun 60an yang kuat diwarnai oleh cara pandang modernisasi, termasuk di dalamnya keterpukauan pada yang serba mesin, sehingga menganggap alat transportasi yang menggunakan tenaga manusia merendahkan dan menghinakan kemanusiaan, bahkan bangsa. Pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid dalam dialog dengan rakyat miskin kota Sabtu, 20 November 1999 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, menguatkan posisi tersebut: "Di hati kecil saya, saya juga ingin supaya becak tidak ada karena dia bagian dari masalah kemiskinan. Masak orang disamakan dengan kuda," ungkapnya, menanggapi keinginan Gubernur Sutyoso untuk menghapus becak dari Jakarta. Di sisi lain, para pengemudi becak dan kelompok-kelompok civil society yang mendukung hak hidup becak di Jakarta melihat permasalahan dari sudut demokrasi, hak ekonomi rakyat yang merupakan bagian dari hak asasi, dan pertimbangan ekologis.
Paradigma using
Sukarno pada tahun 60an mengatakan kepada kaum marhaen, jangan mau menjadi tukang becak, karena becak identik dengan penindasan manusia atas manusia. Cara pandang ini dipengaruhi dan terkecoh oleh gemerlap mobil, lampu neon, jalan-jalan lebar dan berbagai ornamen dan pernik modernisasi yang menegasikan hampir semua yang tradisional, purba, dan cara hidup ugahari yang bersahabat dengan alam. Ukuran kemajuan satu bangsa dipertaruhkan pada kemampuan rakyat untuk mengkonsumsi barang-barang produk pabrik. Keswadayaan masyarakat dan rakyat yang dihasilkan dari persahabatan erat mereka dengan alam dengan cara menggunakan bahan-bahan dari alam yang tersedia di sekitar mereka untuk bahan makanan, untuk papan, untuk sandang mereka diremehkan dan dianggap simbol kemiskinan.

Pandangan terhadap becak, satu alat transportasi yang mengandalkan kekuatan fisik manusia sendiri, tanpa harus tergantung pada mesin; yang memungkinkan si pengemudi menjadi orang merdeka karena bisa mengatur jam kerjanya sendiri; yang memungkinkan mereka bekerja sesuai kebutuhan, tidak memaksa diri dan menjadi kapitalistik; semua itu dilihat sebagai simbol keterbelakangan. Seorang anggota DPRD DKI Jakarta menjadi-kannya alasan bangsa Indonesia tidak akan bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain karena Jakarta masih mempunyai becak di jalan-jalannya.

Sementara kita tahu jelas, bahwa ukuran yang saat ini banyak digunakan untuk menen-tukan tingkat pretasi dan prestise sebuah negara dibanding lainnya , di antaranya, adalah kemampuan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN, termasuk upeti-upeti yang dituntut dari investor asing kepada para pejabat. Beberapa kali survei internasional dilakukan tentang masalah ini, dan Indonesia berada di peringkat pertama terburuk di Asia, dan peringkat serupa di tingkat dunia. Dari segi sosial ekonomi, ukuran adalah tingkat pendidikan, kesehatan termasuk kematian balita dan ibu hamil, dan ketersediaan lapangan kerja serta tingkat inflasi. Kita tahu, peringkat yang dibuat PBB juga menempatkan Indonesia di posisi buruk. Dari segi lingkungan dan ekologi, ukuran di antaranya dilihat dari tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Dalam hal ini, kita tahu bahwa hutan-hutan kita gundul, kota-kota besar kita tercemar air, udara dan tanahnya karena emisi gas beracun dari kendaraan bermotor, limbah pabrik dan penggunaan bahan-bahankimiaberacun.

Becak, sama sekali bukan ukuran pembanding antar negara untuk menilai prestasi dan prestise. Pandangan seperti yang dikemukakan orang-orang yang mengaku wakil rakyat di DPR/D itu lebih merupakan cara pikir feodal dan modernis yang sempit, yang tidak mempunyai kesadaran historis dan ekologis atas perkembangan jaman dan permasalahan utama yang berada di depan mata kita semua.
Becak adalah jawaban, bukan masalah kemiskinan
Indonesia terjerembab ke dalam krisis ekonomi (juga politik) sejak sekitar dua tahun lalu. Jutaan orang kehilangan lapangan kerja, terutama mereka yang berada di sektor formal modern seperti properti, pabrik, dan sejenisnya. Jumlah orang miskin melonjak menjadi sekitar 80 juta, di kota dan di desa. Mereka berjuang untuk bertahan hidup, dengan kreatif memasuki dan terserap oleh kegiatan ekonomi sektor informal. Tanpa adanya sektor penyangga ini, kita tidak bisa membayangkan ketegangan sosial macam apa yang akan terjadi.

Becak adalah salah satu lapangan kerja yang di Jakarta saat ini menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja yang sebelum menjadi buruh bangunan, buruh pabrik, pekerja-pekerja rendahan di kantor-kantor swasta. Jika masing-masing mempunyai 3 orang anggota keluarga, satu istri dan dua anak, maka kegiatan menarik becak ini telah menghidupi 10 ribu keluarga, 40 ribu orang. Kegiatan ini, selain memberi pendapatan pada pemerintah kota melalui retribusi yang entah dimasukkan ke dalam kas negara atau kantong si petugas, menghidupi berbagai usaha ekonomi rakyat miskin lainnya seperti pedagang nasi dan makanan, pengusaha MCK, pemilik rumah kontrakan. Komponen becak juga tidak membebani negara karena berasal dari dalam negeri, tidak perlu impor. Artinya, becak juga membuka lapangan kerja untuk bengkel, industri kecil dan rumahan yang membuat berbagai komponennya yang sebagian dibuat secara daur ulang.

Secara ekologis, becak jelas bukan jenis alat transportasi yang menghasilkan polusi udara, air ataupun tanah, tidak juga polusi suara. Dalam kategori ini becak justru masuk ke dalam kategori alat transportasi alternatif yang cocok untuk bumi yang ozonnya sudah bolong, dan alamnya sudah rusak parah karena polusi. Sebagaimana kita tahu, berbagai negara maju saat ini sedang melakukan eksperimen untuk menemukan kendaraan motor berbahan bakar non-polutif. Berbagai kota seperti Oxford di Inggris dan Berlin di Jerman justru mulai menggunakan becak seperti yang ada di Indonesia untuk kendaraan umum. Singapura yang merupakan salah satu negara paling modern di Asia juga masih mempertahankan becak untuk atraksi turisme – satu bukti lagi bahwa becak bukanlah sumber kenistaan bagi bangsa, tapi bahkan bisa menjadi daya tarik turis asing artinya, sumber pendapatan untuk negara.

Becak, sebagai kendaraan jarak pendek, juga mempunyai daya tampung cukup banyak, bisa mengakomodasi lebih dari satu orang, dan mengangkut sejumlah besar barang. Relasi dan interaksi antara pengemudi dan penumpang akrab dan didasarkan pada rasa saling percaya. Kita tahu banyak ibu-ibu kelas menengah bawah yang mempercayakan penjemputan anak-anaknya dari sekolah kepada para abang becak. Perempuan-perempuan pedagang di pasar tradisional mempercayakan keamanan barangnya pada tukang becak. Perumahan-perumahan dan toko-toko justru aman karena ada becak yang mangkal di sekitar mereka.
Becak penyebab masalah sosial dan politik?
Gubernur Sutyoso dalam pernyataan persnya Minggu, 21 November 1999 menyatakan dengan semena-mena dan tanpa landasan bukti data bahwa becak menimbulkan masalah sosial politik di Jakarta. Gubernur Sutyoso memang pejabat yang berasal dari masa Orde Baru. Bukan rahasia umum lagi bahwa sebagai Pangdam Jaya, ia menjadi salah satu pejabat militer yang harus bertanggung jawab atas peristiwa penyerangan markas PDIP pada 27 Juli 1997, dan ketika menjadi Gubernur, membawahi wilayah administrasi yang paling korup di Indonesia. Namun, kondisi politik saat ini sudah berubah, dan Sutyoso hendaknya tidak menggunakan cara-cara Orde Baru, di mana pejabat dapat membuat pernyataan publik apapun sesuai kehendaknya yang kemudian harus diperlakukan sebagai kebenaran tunggal. Juga sudah bukan masanya lagi untuk pihak eksekutif membawahi pihak legislatif termasuk dengan menggunakan uang. Walaupun masih menjadi tanda tanya apakah untuk DKI Jakarta, prinsip baru ini sudah mulai berlaku.

Akar permasalahan sosial dan politik, sebagaimana kita telah semua tahu dan telah terbukti dari banyak data dan kasus selama ini, justru adalah kepentingan politik dan vested interest para elit penguasa, apakah itu penguasa sipil maupun militer dan polisi. Mereka yang mempunyai kekuasaan mengambil keputusan dan kekuasaan uang, dan mereka yang mempunyai kekuasaan senjata, semua itulah yang selama ini telah memainkan emosi, nasib dan kehidupan massa rakyat, termasuk tukang becak, untuk kepentingan sempit mereka. Terlalu banyak bukti dan data yang bisa dikemukakan, sehingga sulit untuk siapapun menolak argumentasi ini. Mengenai, massa rakyat yang menjarah pada kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, misalnya, telah dibuktikan baik oleh tim TGPF maupun data lapangan yang dikumpulkan oleh tim kampung UPC (Urban Poor Consortium) bahwa massa rakyat diprovokasi; kesenjangan sosial ekonomi yang menempatkan mereka di posisi marginal dimainkan dan dipicu sehingga mereka melakukan penjarahan. Tukang becak yang marah dan konflik keras dengan pengemudi mikrolet di beberapa wilayah Jakarta, misalnya, bertindak nekat karena jalur nafkah mereka dirampas secara sepihak, tanpa musyawarah. Ketika pertemuan musyawarah dilakukan, koeksistensi damai bisa kembali dipelihara antar berbagai jenis alat transportasi tersebut. Artinya, rakyat mampu mengelola konflik antar mereka sendiri dengan baik jika kekuatan dan campur tangan kepentingan luar tidak ikut bermain.

Tuduhan lain yang sering dilontarkan sebagian orang terhadap becak adalah sebagai penyebab kemacetan. Kita perlu jernih memahami masalah ini. Pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari, kita lihat bahkan jalan tol pun, yang tidak ada becak di sana, juga macet. Seluruh jalan di Jakarta, dari yang paling lebar sampai gang-gang kecil, pada waktu-waktu tersebut macet dan padat.

Dua akar masalah kemacetan jalan bisa diditeksi di sini: kebijakan sistem transportasi Jakarta, dan disiplin polisi sebagai penjaga lalu lintas. Pemahaman yang salah terhadap modernitas dan modernisasi sangat mewarnai kebijakan sistem transportasi Jakarta. Pemda, selama ini, telah memprioritaskan penambahan dan pemilikan mobil pribadi. Maka jalan tol, jalan layang, dan jalan-jalan lebar dibangun. Sarana transportasi umum seperti bus yang bisa mengangkut banyak orang jumlahnya sangat timpang dibanding jumlah mobil pribadi. Rapid mass transport seharusnya menjadi prioritas Pemda.

Situasi diperburuk oleh para polisi lalu lintas yang dengan mudah bisa disogok oleh para pelanggar peraturan. Jenderal Kunarto, ketika menjadi Kapolri mengakui hal ini ketika mengatakan bahwa satu-satunya polisi yang tidak bisa disuap adalah polisi patung. Sikap korup ini menjadikan para pemakai jalan tidak berdisiplin. Kendaraan umum berhenti seenaknya mencari penumpang, pejalan kaki membuat terminal bayangan di mana-mana sehingga jalan macet, mobil-mobil pribadi dengan tenang melakukan pelanggaran karena tahu pasti mereka bisa bebas dengan menyogok lima atau sepuluh ribu rupiah kepada polisi. Disiplin berlalu lintas akan bisa ditegakkan jika dimulai dari ditegakkannya disiplin secara ketat di kalangan polisi.
Sikap arif sebagai pemecahan
Apakah penggusuran becak merupakan pemecahan masalah kemiskinan? Jelas tidak. Pemberian hak hidup kepada becak di Jakarta adalah sikap yang lebih realistis dan masuk akal karena beberapa pertimbangan. Pertama, pemerintah saat ini kesulitan menciptakan lapangan kerja. Penciptaan lapangan kerja sementara lewat proyek padat karya bukanlah pemecahan. Menggunakan contoh proyek yang sama pada tahun anggaran 1998/1999, setiap orang yang terlibat dalam program ini mendapatkan imbalan Rp.7.500, jumlah yang sama sekali tidak cukup untuk hidup satu orang di Jakarta satu hari, apalagi untuk satu keluarga. Dana hutang yang terbatas baik dalam jumlah maupun waktu untuk proyek ini, di samping kemungkinan kebocoran karena KKN yang masih jamak terjadi di kalangan birokrasi DKI Jakarta, menjadikan alternatif ini pemecahan tambal sulam yang tidak memecahkan masalah. Para penarik becak bisa mendapatkan uang antara 10 ribu sampai 15 ribu sehari, jumlah yang pasti lebih besar. Membiarkan mereka ada tetapi kemudian mengatur keberadaannya di daerah perumahan, di jalan-jalan non-protokol dan di wilayah-wilayah serupa yang membutuhkannya merupakan cara yang lebih realistis untuk menangani permasalahan becak. Kenyataan bahwa becak bisa mendapatkan nafkah sejumlah tersebut di atas menunjukkan bahwa mereka dibutuhkan oleh para konsumen.

Kedua, pemberian hak hidup kepaca becak di Jakarta menunjukkan sikap kita yang konsisten terhadap upaya demokratisasi, penghargaan pada pluralitas, termasuk keragaman sarana transportasi dan pembagian wilayah hidup di jalan raya. Mereka yang lemah dan kecil seperti becak, boleh berada bersama dengan bus yang besar, mobil pribadi yang mewah, kereta api dan sebagainya. Permasalahannya adalah bagaimana pemerintah dapat mengatur sehingga tercipta kohabitasi yang damai dan adil.

Ketiga, penertiban sesungguhnya harus dilakukan pada siapa? Jika itu dilakukan pada tukang becak, maka kita telah menerapkan hukum si kuat yang menang, si lemah harus dikorbankan. Dengan kata lain, penertiban dan penegakan hukum harus dimulai dari para aparat pemerintah termasuk polisi dan tentara, dan harus dilakukan secara top-down.

Alasan terakhir, becak adalah bagian dari ciri dan sejarah Asia, ciri dan sejarah kita. Kekayaan sejarah dan akar ini perlu kita pelihara untuk tidak menjadikan kita bangsa yang tercabut dari dan kehilangan akar.


Bahaya Rokok

Masyarakat DKI Jakarta dibuat kaget, bukan oleh serangan wabah DBD, bukan pula serangan teroris; tetapi oleh rokok. Pasalnya Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso melansir kebijakan baru bertajuk larangan merokok di tempat umum.Yang membuat publik kaget, bukan karena larangannya, tetapi lebih karena hukumannya yang setinggi langit, Rp. 50 juta dan kurungan 6 bulan.

Keterkejutan publik, secara sosiologis layak dipahami. Alasannya, hingga detik ini, bahaya rokok di Indonesia masih menjadi "isu pinggiran".Pemerintah, dan bahkan tokoh masyarakat (seperti ulama) juga masih setali tiga uang. Paling banter ulama di Indonesia hanya memberikan fatwa merokok makruh hukumnya. Berbeda dengan jumhur ulama di berbagai negara di Timur Tengah, bahkan Malaysia dan Brunei Darussalam; yang memfatwakan bahwa merokok haram hukumnya. Ulama terkenal Syeikh Yusus Qordhowi termasuk ulama yang mengharamkan merokok (baca Fatwa-Fatwa Kontemporer).

Mungkin masyarakat sudah mengerti bahayanya, karena dalam setiap bungkus rokok ada peringatan: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan ganguan kehamilan dan janin.

Dari sisi kesehatan, bahaya rokok sudah tak terbantahkan lagi. Bukan hanyamenurut WHO, tetapi, lebih dari 70 ribu artikel ilmiah membutikan hal itu.Dalam kepulan asap rokok terkandung 4000 racun kimia berbahaya, dan 43 diantaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Berbagai zat berbahaya itu, adalah tar, karbon monoksida (CO), dan nikotin.

Akibatnya, berbagai penyakit kanker pun mengintai, seperti : kanker paru - paru 90% pada laki-laki disebabkan rokok, dan 70% untuk perempuan, kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah
tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronchitis, kematian mendadak pada bayi, bahaya rusaknya kesuburan bagi wanita dan impotensi bagi kaum pria. Kurang apalagi?

Begitu kompleksnya, tidak heran jika menurut estimasi WHO, pada 2020 dampak tembakau di negara maju mulai menurun. Pada 1996 mencapai 32%, namun pada 2001 hanya 28%. Namun, di negara-negara berkembang trend konsumsi tembakau malah mengalami kenaikan, yaitu 68% pada 1996, menjadi 72% pada 2001. Wjar, jika hampir 50% (sekitar 4,2 juta jiwa) kematian akibat tembakau pada 2020 terjadi di wilayah Asia, khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia.

Dampak bahaya rokok memang antik dan klasik. Tidak ada orang mati mendadakkarena merokok. Dampaknya tidak instant, beda dengan minuman keras dan narkoba. Dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan.

Anehnya pula, dampak asap rokok bukan hanya untuk di si perokok aktif (active smoker) saja. Ia pun punya dampak sangat serius bagi perokok pasif (passive smoker). Orang yang tidak merokok (passive smoker), tetapi terpapar asap rokok akan menghirup dua kali lipat racun yang dihembuskna pada asap rokok oleh si perokok. Sangat tidak adil; tidak merokok, tetapi malah menghirup racun dua kali lipat.

Maka, salah satu cara untuk membatasi perilaku merokok semau gue, WHOmencanangkan program "Kawasan Tanpa Rokok" (KTR) di tempat-tempat umum. Progam seperti ini lazim diterapkan di berbagai negara, termasuk di ASEAN; Singapura, Malaysia bahkan Vietnam. Di Malaysia, organ merokok di tempat umum didenda 500 ringgit, di Bankok didenda 2.000 baht.

Oleh sebab itu, kebijakan Gubernur DKI Jakarta menjadi rasional dan layak mendapatkan dukungan publik. Hanya, yang perlu dipertanyakan adalah, selain besarnya denda, juga bagaimana mekanisme pelaksanaannya? Sebab, berbagai hal kasat mata dan lebih konkrit dampaknya (banjir, sampah, dan kemacetan) hingga kini tidak pernah beres, apalagi masalah rokok?

Kebijakan KTR yang digagas oleh Pemda DKI Jakarta, sebenarnya, bukan yang pertama kali. Peraturan Pemerintah No. 81/1999 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, yang kemudian diubah menjadi PP No. 19/2003; sudah lebih dahulu mengatur tentang larangan merokok di tempat-tempat umum, Tetapi, sialnya, PP tersebut tidak bisa memberikan sanksi. PP tersebut malah memerintahkan agar setiap Pemda di Indonesia membuat aturan tersendiri tentang KTR (Perda).

Apalagi WHO sekarang sudah menerapkan konvensi bernama FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Saat ini, FCTC sudah ditandatangani oleh lebih dari 160 negara anggota WHO, dan lebih dari 40 negara telah meratifikasinya, Sekarang FCTC sudah menjadi hukum internasional. Sayangnya, Pemerintah Indonesia, sebagai salah satu pengagas dan legal drafter, hingga batas akhir juni 2004, tidak menandatangani FCTC!

FCTC, selain mengatur soal larangan merokok di tempat umum, setiap Pemerintah bahkan "dibimbing" untuk menanggulangi dampak tembakau secara elegan, dan komprehensif. Misalnya menaikan cukai rokok, larangan iklan di media massa dan promosi dan larangan penyeludpan (smuggling).

Menaikan cukai rokok, merupakan instrumen penting, selain untuk membatasi segmentasi perokok, juga untuk meningkatkan pendapatan negara. Tapi sungguh ironis, mayoritas perokok di Indonesia adalah orang miskin. Menurut survei Bappenas (1995), orang miskin justru mengalokasikan 9% total pendapatannya untuk rokok. Betapa besar manfaatnya, jika dana itu digunakan untukkesehatan, pangan, atau pendidikan.

Rokok memang memberikan kontribusi signifikan, berupa cukai, bayangkan,tahun 2004 cukai rokok sebesar Rp. 27 trilyun. Belum lagi kontribusi sektorpertanian dan tenaga kerja. Namun, itu semua sebenarnya hanya ilusi belaka. Sebagai contoh, jika Pemerintah mendapatkan Rp. 27 trilyun, berapa sebenarnya biaya kesehatan yang ditanggung oleh Pemerintah dan masyarakat?Menurut data di berbagai negara, dan juga Indonesia , biaya kesehatan yang ditanggung oleh Pemerintah dan masyarakat sebesar 3 kali lipat dari cukai yang didapatkan. Jadi, kalau cukainya Rp. 27 trilyun maka biaya kesehatannya sebesar Rp. 81 trilyun (alias defisit).

Cepat atau lambat, Pemerintah harus mengambil kebijakan konkrit dan komprehensif untuk penangulangan bahaya rokok. Jika tidak, bukan hal yang mustahil berbagai penyakit yand diakibatkan rokok akan menjadi wabah membahayakan lebih besar dari wabah HIV/AIDS. Jangan "menggadaikan" kesehatan anak bangsa, hanya karena takut kehilangan Rp. 27 trilyun, yangsebenarnya hanya ilusi dan jebakan maut belaka.

Rabu, 18 November 2009

Bahasa Indonesia 1

TUGAS MAKALAH
Cara Jitu Mengembangun Motivasi Belajar
Dosen : Sangsang Sangabakti
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 1






Disusun Oleh :

1.( 17108364 ) Erwansyah
2.( 17108369 ) Windu Panca
3.( 17108374 ) Sandy M
4.( 17108375 ) Ath Thaariq
5.( 17108378 ) Eki Siwi
6.( 17108379 ) Yuliana JB
7.( 17108380 ) Winda Christy
8.( 17108381 ) Euis Galih
9.( 17108382 ) Lenny D
10.( 17108383 ) Lucyana S
11.( 17108384 ) Maesarah Rizki
12.( 17108386 ) Taufiq R
13.( 17108392 ) Kunto Hadi
14.( 17108385 ) Rino P
15.( 17108400 ) Chendy A
16.( 17108403 ) Raja M
17.( 17108404 ) Bayu Aji
18.( 17108405 ) Andreas L
19.( 17108412 ) Angga K
20.( 17108417 ) Rohmawan S
21.( 17108419 ) Hendrawan S
22.( 17108420 ) Fuad R
23.( 17108421 ) Sabaruddin Sigit
24.( 17108423 ) Selly Tricia

Kelas : 5 KA17





Sistem Informasi
Universitas Gunadarma Depok
2009

DAFTAR ISI


Halaman Judul

Daftar isi

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Perumusan Masalah
1.4 Manfaat

Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian Motivasi
2.2 Pengertian Belajar
2.3 Jenis – jenis Motivasi
2.4 Teori Motivasi
2.5 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
2.6 Upaya Membangkitkan Motivasi

Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

Daftar Pustaka

Lampiran



BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah
Dalam hidup ini setiap manusia mempunyai tujuan. Untuk mencapai suatu tujuan manusia harus belajar dari segala hal. Diperlukan juga motivasi atau dorongan yang kuat dari dalam maupun dari luar. Oleh karena motivasi adalah bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, faktor inilah yang harus diperhatikan agar semua berjalan dengan maksimal. Kurangnya motivasi menjadi penyebab timbulnya maslah untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mencapai suatu tujuan dengan memotivasi diri dalam belajar, akan menjadi penggerak utama untuk berusaha keras mencapai atau mendapat apa yang diinginkan.

Lebih penting sesuatu yang ingin dicapai, dimiliki, diselesaikan atau ditujui, lebih serius dan lebih kuatlah usaha seseorang, sebuah keluarga, organisasi, masyarakat atau negara untuk mencapai apa yang telah ditetapkan. Jadi, dengan tujuan atau hasrat yang lebih penting atau besar, lebih kuatlah pula dorongan atau motivasi seseorang itu untuk berusaha bagi mencapai tujuannya.

Dengan hanya mengetahui teori-teori tentang motivasi serta memahami apa yang menjadi kebutuhan manusia tidaklah cukup, oleh karena itu dalam pelaksanaan motivasi pihak manajer harus mengetahui jenis-jenis motivasi agar dapat diterapkan model motivasi mana yang cocok diterapkan oleh organisasi untuk memotivasi pegawainya.

Menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif. Sedangkan menurut Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu


B. Identifikasi Masalah
Salah satu masalah yang ada dalam belajar adalah kurangnya semangat atau usaha untuk menjalankannya. Karena kurangnya usaha dan semangat, akhirnya harus menunggu lama untuk mencapai suatu tujuan. Maka dari itu, perlu diperhatikan bagaimana cara – cara jitu membangun motivasi belajar untuk mencapai suatu tujuan.

C. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini ialah sebagai berikut :
a.Bagaimanakah belajar dengan baik dan benar ?
b.Bagaimanakah cara jitu untuk membangun motivasi belajar ?
c.Sampai sejauh mana cara yang efektif untuk membangkitkan cara belajar ?

D. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai ialah :
a.Mengetahui cara belajar dengan baik dan benar.
b.Mengetahui cara jitu untuk membangun motivasi belajar.

E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari pembahasan masalah dalam makalah ini ialah segala sesuatu yamg berkenaan dengan masalah seputar cara membangun motivasi belajar.

F. Manfaat
Fungsi kemanfaatan dari makalah ini ialah :
a.Sebagai bahan referensi untuk bahan pembelajaran bagi siapa saja yang membutuhkannya untuk membagun motivasi belajar.
b.Sebagai pembanding dari karya tulis lainnya yang sejenis untuk menambah keragaman pembahasan yang ada mengenai permasalahan pembelajaraan dan motivasi ini.




G. Metodologi

Penyajian pembahasan makalah ini memakai metode sebagai berikut :
a.Melakukan kajian pustaka beberapa buku literatur yang membahas masalah belajar dan motivasi.
b.Melakukan browsing di internet untuk mengumpulkan data – data penting lainnya.




Bab II
Pembahasan

A. Pengertian Motivasi
Perkataan Motivasi adalah berasal daripada perkataan Bahasa Inggris "Motivation". Perkataan asalnya ialah "Motive" yang juga telah dipinjam oleh Bahasa Melayu / Bahasa Malaysia kepada Motiv, yakni bermaksud Tujuan. Di dalam surat kabar, kerap pemberita menulis ayat "motif pembunuhan". Perkataan motif di sini boleh kita fahami sebagai sebab atau tujuan yang mendorong sesuatu pembunuhan itu dilakukan.

Jadi, ringkasnya, oleh karena perkataan motivasi adalah bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan seseorang itulah sebenarnya yang menjadi penggerak utama baginya berusaha keras mencapai atau mendapat apa juga yang diinginkannya sama ada secara negatif atau positif.

Motif seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motif tersebut merupakan suatu driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah laku, dan di dalam perbuatanya itu mempunyai tujuan tertentu. Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi ( niat ). Berikut ini adalah beberapa pengertian motivasi menurut :
Wexley & Yukl ( dalam As’ad, 1987 ) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
Mitchell ( dalam Winardi, 2002 ) motivasi mewakili proses - proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela ( volunteer ) yang diarahkan ke tujuan tertentu.

Gray ( dalam Winardi, 2002 ) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.

Morgan (dalam Soemanto, 1987 ) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah : keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ).

McDonald ( dalam Soemanto, 1987 ) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula ( Suprihanto dkk, 2003 ).

Soemanto ( 1987 ) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah merupakan sejumlah proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.

Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang baik sadar atau tidak sadar untuk melalukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.

Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar yang efektif. Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seorang siswa. Tidak ada seorangpun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar.

James O. Whittaker memberikan sebuah definisi tentang motivasi sebagai kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan.

Frederick J. Mc Donald mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi ( tenaga ) di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif ( perasaan ) dan reaksi mencapai tujuan. Perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik.

Dari definisi di atas dalam motivasi terdapat tiga hal, yaitu :
1)Suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang. Setiap perubahan motivasi berakibat pada perubahan tenaga di dalam sistem neoro fisiologis dari organisme manusia.
2)Ditandai oleh dorongan afektif, seperti lebih bersemangat
3)Ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan, yaitu tindakan nyata

B. Pengertian Belajar
Sebelum membahas masalah prinsip belajar dan pembelajaran sangatlah perlu dipahami terlebih dahulu konsep belajar.
1. Apakah belajar itu ?
Menurut Gagne ( 1984 ) belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Galloway dalam Toeti Soekamto (1992 ) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sedangkan Morgan menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut :
a.belajar adalah perubahan tingkahlaku
b.perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman, bukan karena pertumbuhan
c.perubahan tersebut harus bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama
Berbicara tentang belajar pada dasarnya berbicara tentang bagaimana tingkahlaku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman (Snelbeker 1974 dalam Toeti 1992). Dari pengertian di atas dapat dibuat kesimpulan bahwa agar terjadi proses belajar atau terjadinya perubahan tingkahlaku sebelum kegiatan belajar mengajar dikelas seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman belajar yang akan diberikan pada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri siswa, agar proses belajar tersebut mengarah pada tercapainya tujuan dalam kurikulum maka guru harus merencanakan dengan seksama dan sistematis berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan perubahan tingkahlaku siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktifitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran.

Dengan kata lain pembelajaran adalah proses membuat orang belajar. Guru bertugas membantu orang belajar dengan cara memanipulasi lingkungan sehingga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai starategi pembelajaran yang ada, yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal. Dalam pembelajaran proses belajar tersebut terjadi secara bertujuan ( Arief Sukadi 1984 ) dan terkontrol.

Tujuan-tujuan pembelajaran telah dirumuskan dalam kurikulum yang berlaku. Peran guru disini adalah sebagai pengelola proses belajar mengajar tersebut. Dalam sistem pendidikan kita ( UU. No. 2 Tahun 1989 ), seorang guru tidak saja dituntut sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran tertentu tetapi juga harus dapat berperan sebagai pendidik.
Davies mengatakan untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seorang guru perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai prinsip-prinsip belajar, khususnyai prinsip berikut :

a.Apapun yang dipelajari siswa , maka siswalah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu siswalah yang harus bertindak aktif
b.Setiap mahasiswa akan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya
c.Seorang siswa akan belajar lebih baik apabila mempengoreh penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajarnya terjadi
d.Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan mahasiswa akan membuat proses belajar lebih berarti
e.Seorang siswa akan lebih meningkat lagi motivasinya untuk belajar apabula ia diberi tangungjawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya (Davies 1971).

2. Belajar, Mengajar dan Pembelajaran
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas.

Duffy dan Roehler ( 1989 ) mengatakan apa yang dilakukan guru agar proses belajar mengajar berjalan lancar, bermoral dan membuat siswa merasa nyaman merupakan bagian dari aktivitas mengajar, juga secara khusus mencoba dan berusaha untuk mengimplementasikan kurikulum dalam kelas. Sementara itu pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.

Jadi pembelajaran adalah suatu aktivitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan yaitu tercapainya tujuan kurikulum. Dalam buku pedoman melaksanakan kurikulum SD,SLTP dan SMU ( 1994 ) istilah belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar. Sumber belajar tersebut dapat berupa buku, lingkungan, guru dll. Selama ini Gredler ( 1986 ) menegaskan bahwa proses perubahan sikap dan tingkahlaku itu pada dasarnya berlangsung pada suatu lingkungan buatan ( eksperimental ) dan sangat sedikit sekali bergantung pada situasi alami ( kenyataan ).

Oleh karena itu lingjungan belajar yang mendukung dapat diciptakan, agar proses belajar ini dapat berlangsung optimal. Dikatakan pula bahwa proses menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa disebut dengan pembelajaran. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh suatu pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya mudah diamati. Mengajar diartikan dengan suatu keadaan untuk menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Situasi ini tidak harus berupa transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa saja tetapi dapat dengan cara lain misalnya belajar melalui media pembelajaran yang sudah disiapkan.

Gagne dan Briggs ( 1979 ) mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sepintas pengertian mengajar hampir sama dengan pembelajaran namun pada dasarnya berbeda. Dalam pembelajaran kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh perancang atau guru. Sementara itu dalam keseharian di sekolah-sekolah istilah pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar dimana di dalamnya ada interaksi guru dan siswa dan antara sesama siswa untuk mencapai suatu tujuan yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkahlaku siswa. Apa yang dipahami guru ini sesuai dengan pengertian yang diuraikan dalam buku pedoman kurikulum (1994) Sistem pendidikan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sistem masyarakat yang memberinya masukan maupun menerima keluaran tersebut. Pembelajaran mengubah masukan yang berupa siswa yang belum terdidik menjadi siswa yang terdidik.

Fungsi sistem pembelajaran ada tiga yaitu fungsi belajar, fungsi pembelajaran dan fungsi penilaian. Fungsi belajar dilakukan oleh komponen siswa, fungsi pembelajaran dan penilaian (yang terbagi dalam pengelolaan belajar dan sumber-sumber belajar) dilakukan oleh sesuatu di luar diri siswa (Arief,S. 1984). Sebenarnya belajar dapat saja terjadi tanpa pembelajaran namun hasil belajar akan tampak jelas dari suatu pembelajaran. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan berlangsungnya proses belajar dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila dalam dirinya terjadi perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa dan sebagainya.

Dalam pembelajaran hasil belajar dapat dilihat langsung, oleh karena itu agar kemampuan siswa dapat dikontrol dan berkembang semaksimal mungkin dalam proses belajar di kelas maka program pembelajaran tersebut harus dirancang terlebih dahulu oleh para guru dengan memperhatikan berbagai prinsip-prinsip pembelajaran yang telah diuji keunggulannya (Arief. Sukadi, 1991).

3. Bagaimana terjadinya proses belajar ?
Belajar adalah istilah kunci yang paling vital dalam kehidupan manusia khususnya dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat perhatian yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan khususnya bidang psikologi pendidikan.

Begitu pentingnya pendidikan maka psikologi pendidikan berusaha untuk mengkaji bagaimana tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia dan bagaimana proses belajar terjadi. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Dengan kemampuan berubah ini manusia bebas untuk bereksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting dalam kehidupannya.

Ada banyak bentuk-bentuk perubahan yang terdapat dalam diri manusia yang ditentukan oleh kemampuan dan kemauan belajarnya sehingga peradaban manusia itupun tergantung dari bagaimana manusia belajar. Belajar juga memainkan peranan penting dalam mempertahankan sekelompok umat manusia di tengah persaingan yang semakin ketat dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan itu pun kenyataan tragis juga dapat terjadi karena faktor belajar. Contohnya begitu banyak kejadian di mana orang pintarlah yang paling banyak melakukan kepintarannya untuk menghancurkan kehidupan orang lain.

Kemajuan hasil belajar bidang pengetahuan dan teknologi tinggi digunakan untuk membuat senjata pemusnah sesama manusia. Jadi belajar disamping membawa manfaat namun dapat juga menjadi mudarat. Meskipun ada dampak negatif dari hasil belajar namun kegiatan belajar memiliki arti penting. Alasannya karena belajar berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan kehidupan manusia. Artinya dengan ilmu dan teknologi hasil belajar kelompok manusia tertindas dapat juga digunakan untuk membangun benteng pertahanan.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tadi Anda sebagai mahasiswa atau sebagai calon guru atau guru yang profesional seyogyanya melihat hasil belajar siswa-siswa dari berbagai sudut kinerja psikologis yang utuh dan menyeluruh. Seorang siswa yang menempuh proses belajar idealnya mengalami perubahan, ditandai dengan munculnya pengalaman-pengalaman psikologis yang utuh dan menyeluruh.

4. Bagaimana Proses Belajar ?
Sebagaimana dikatakan bahwa belajar pada dasarnya adalah suatu proses perubahan manusia. Lalu bagaimana terjadinya proses belajar ini ? Proses berasal dari bahasa latin "processus" yang berarti "berjalan ke depan" yaitu berupa urutan langkah-langkah atau kemajuan yang mengarah pada tercapainya suatu tujuan.

Dalam ilmu psikologi, proses belajar berarti cara-cara atau langkah-langkah ( manners or operation ) khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai tujuan tertentu. ( Rober ,1988, dalam Muhibin,1995 ). Dalam pengertian tersebut tahapan perubahan dapat diartikan sepadan dengan proses. Jadi proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju dari pada keadaan sebelumnya. Dalam uraian tersebut digambarkan bahwa belajar adalah aktifitas yang berproses menuju pada satu perubahan dan terjadi melalui tahapan-tahapan tertentu.

Menurut Jerome S. Bruner, proses belajar siswa terjadi dalam tiga fase yaitu fase informasi, transformasi dan fase penilaian ( untuk memahaminya silahkan baca modul 3, Kb 2: Teori belajar Bruner ).
Sementara itu menurut Wittig ( Muhibbin 1995 ) proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu :
a.Acquasistion (tahap perolehan informasi), pada tahap ini si belajar mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respon sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap aguasistion merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya.

b.Storage (penyimpananinformasi), pemahaman dan perilaku baru yang diterima siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut shortterm atau longterm memori.

c.Retrieval (mendapatkan kembali informasi), apa bila seorang siswa mendapat pertanyaan mengenai materi yang telah diperolehnya maka ia akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapinya. Tahap retrival merupakan peristiwa mental dalam rangka mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, pengalaman yang telah diperolehnya

C. Jenis – jenis Motivasi
Motivasi dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang berasal dari diri individu itu sendiri. Dikatakan motivasi intrinsik apabila seorang siswa termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai ilmu pengetahuan bukan karena motif lain seperti pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah. Motivasi itu muncul karena ia merasa membutuhkan sesuatu dari apa yang ia pelajari. Kesadaran pentingnya terhadap apa yang dipelajari adalah sangat penting untuk memunculkan motivasi intrinsik. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik maka selalu ingin maju dalam belajar sserta haus ilmu pengetahuan.

2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena adanya perangsang dari luar diri individu. Peserta didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya, seperti nilai yang tinggi, kelulusan, ijazah, gelar, kehormatan dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik meskipun kurang baik akan tetapi sangat diperlukan dalam proses pendidikan agar anak didik mau belajar. Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk. Ia sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik.

D. Teori Motivasi
Teori Motivasi ada 3 kelompok yaitu :
1. Teori Kepuasan (Content Theory)
Pada dasarnya Teori ini lebih didekatkan pada factor – factor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkannya bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Hal yang memotivasi semangat bekerja seseorang adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan material maupun nonmaterial yang diperolehnya dari hasil pekerjaannya. Jika kebutuhan dan kepuasannya semakin terpenuhi maka semangat kerjanya pun akan semakin baik pula. Jadi pada kesimpulannya, seseorang akan bertindak (bersemangat bekerja) untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan (Inner Needs) dan kepuasannya. Misalnya mahasiswa A ingin lulus dengan IPK 3,8. Dia akan terdorong untuk lebih giat belajar dibandingkan dengan mahasiswa B yang ingin lulus dengan IP 2,8. Teori kepuasan (Content Theory) ini banyak dikenal antara lain :
a.Teori Motivasi klasik oleh F.W. Taylor.

Teori ini dikemukakan oleh Frederik Winslow Taylor. Menurutnya, motivasi para pekerja itu hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan biologis saja. Sedangkan kebutuhan biologis itu sendiri adalah kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang.

2. Maslow’s Need Hierarchy Theory
Teori ini dikemukakan oleh A.H. Maslow tahun 1943. Teori ini juga merupakan kelanjutan dari Human Science Theory Elton Mayo (1880-1949) yang menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasaan seseorang itu jamak yaitu kebutuhan biologis dan psikologis berupa material dan nonmaterial.

Dasar Maslow’s Need Hierarchy Theory :
a.Manusia adalah makhluk sosial yang berkeinginan. Ia selalu menginginkan lebih banyak. Keinginan ini terus menerus, baru berhenti jika akhir hayatnya tiba.
b.Suatu kebutuhan yang telah dipuaskan tidak menjadi alat motivasi bagi pelakunya, hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang menjadi alat motivasi.

3. Ada beberapa macam kebutuhan, antara lain :
a. Physiological Needs
Physiological Needs (kebutuhan fisik = biologis) yaitu kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan, minum, udara, perumahan dan lain-lainnya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan fisik ini merangsang seeorang berperilaku dan bekerja giat.

b. Safety and Security needs
Safety and Security needs (keamanan dan keselamatan) adalah kebutuhan akan keamanan dari ancaman, yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melakukan pekerjaan.



c. Affiliation or Acceptance Needs
Affiliation or Acceptance Needs adalah kebutuhan sosial, teman, dicintai dan mencintai serta diterima dalam pergaulan kelompok karyawan dan lingkungannya. Karena manusia adalah makhluk sosial, sudah jelas ia menginginkan kebutuhan-kebutuhan social.

d. Esteem or Status or Egoistic Needs
Esteem or Status or Egoistic Needs adalah kebutuhan akan penghargaan diri, pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat lingkungannya. Prestise dan status dimanifestasikan oleh banyak hal yang digunakan sebagai simbol status. Misalnya, memakai dasi untuk membedakan seorang pimpinan dengan anak buahnya dan lain-lain.

e. Self Actuallization
Self Actuallization adalah kebutuhan aktualisasi diri dengan menggunakan kecakapan, kemampuan, ketrampilan, dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan atau luar biasa yang sulit dicapai orang lain. Kebutuhan aktualisasi diri berbeda dengan kebutuhan lain dalam dua hal, yaitu :
1) Kebutuhan aktualisasi diri tidak dapat dipenuhi dari luar. Pemenuhannya hanya berasarkan keinginan atas usaha individu itu sendiri.
2) Aktualisasi diri berhubungan dengan pertumbuhan seorang individu. Kebutuhan ini berlangsung terus-menerus terutama sejalan dengan meningkatkan jenjang karier seorang individu.

Dari uraian di atas, Maslow’s Need Hierarchy Theory ini mempunyai kebaikan dan kelemahan, sebagai berikut :
Kebaikannya :
Teori ini memberikan informasi bahwa kebutuhan manusia itu jamak (material dan nonmaterial) dan bobotnya bertingkat-tingkat pula.
Manajer mengetahui bahwa seseorang berperilaku atau bekerja adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan (material dan nonmaterial) yang akan memberikan kepuasaan baginya.
Kebutuhan manusia itu berjenjang sesuai dengan kedudukan atau sosial ekonominya. Seseorang yang berkedudukan rendah (sosial ekonomi lemah)cenderung dimotivasi oleh material, sedang orang yang berkedudukan tinggi cenderung dimotivasi oleh nonmaterial.

Manajer akan lebih mudah memberikan alat motivasi yang paling sesuai untuk merangsang semangat bekerja bawahannya.
Kelemahannya :
Menurut teori ini kebutuhan manusia itu adalah bertingkat-tingkat atau hierarkis, tetapi dalam kenyataannya manusia menginginkan tercapai sekaligus dan kebutuhan itu merupakan siklus, seperti lapar-makan-lapar lagi-makan lagi dan seterusnya.

f.Herzberg’s Two Factors Teory
Teori Motivasi Dua Faktor atau Teori Motivasi Kesehatan atau Faktor Higienis. Menurut teori ini motivasi yang ideal yang dapat merangsang usaha adalah peluang untuk melaksanakan tugas yang lebih membutuhkan keahlian dan peluang untuk mengembangkan kemampuan. Ada 3 hal penting berdasarkan penelitian Herzberg yang harus diperhatikan dalam motivasi bawahan yaitu :
1)Hal-hal yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang yang mencakup perasaan untuk berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan dapat menikmati pekerjaan itu sendiridan adanya pengakuan atas semuanya itu.
2)Hal-hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama faktor yang bersifat embel-embel saja pada pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat, sebutan jabatan, hak, gaji, tunjangan, dan lain-lain.
3)Karyawan kecewa, jika peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan.

Herzberg menyatakan bahwa orang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang merupakan kebutuhan, yaitu :
1)Maintenance Factors
Adalah faktor-faktor pemeliharaan yang berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentraman badaniah. Kebutuhan kesehatan ini merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi.
2)Motivation Factors
Adalah faktor motivator yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan sempurna dalam melakukan pekerjaan. Factor motivasi ini berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang berkaitan langsung denagn pekerjaan.
3)Mc. Clelland’s Achievment Motivation Theory
Mc. Clelland’s achievment Motivation Theory atau Teori Motivasi Prestasi dikemukakan oleh David Mc.Clelland. Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial. Energi ini akan dimanfaatkan oleh karyawan karena didorong oleh kekuatan motif dan kebutuhan dasar yang terlibat, harapan keberhasilannya, dan nilai insentif yang terlekat pada tujuan. Mc. Clelland mengelompokan 3 kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah bekerja seseorang, yaitu :

Kebutuhan akan Prestasi ( Need for Achievment )
Kebutuhan akan Afiliasi ( Need for Affiliation )
Kebutuhan akan Kekuasaan ( Need for Power )

g. ERG Theory Alderfer
Existence, relatednes, and Growth ( ERG ) Theory ini dikemukakan oleh Clayton Alderfer seorang ahli dari Yale University. Teori ini juga merupakan penyempurnaan dari teori kebutuhan yang dikemukakan oleh A.H. Maslow. Alderfer mengemukakan bahwa ada 3 kelompok kebutuhan yang utama, yaitu :
1)Kebutuhan akan Keberadaan ( Existence Needs ), berhubungan dengankebutuhan dasar termasuk didalamnya Physiological Needs dan Safety Needs dari Maslow.
2)Kebutuha akan Afiliasi ( Relatedness Needs ), menekankan akan pentingnya hubungan antar - individu ( interpersonal relationship ) dan bermasyarakat ( social relationship ).
3)Kebutuhan akan Kemajuan ( Growth Needs ), dalah keinginan intrinsik dalam diri seseorang untuk maju atau meningkatkan kemampuan pribadinya.

h.Teori Motivasi Human Relations
Teori ini lebih mengutamakan pada hubungan seseorang dengan lingkungannya. Menurut teori ini seseorang akan berprestasi baik, jika ia diterima dan diakui dalam pekerjaannya dan lingkungannya. Teori ini juga menekankan peranan aktif pimpinan organisai dalm memelihara hubungan dan kontak-kontak pribadi denga bawahannya yang dapat membangkitkan gairah kerja.

i.Teori Motivasi Claude S. George
Teori ini menyatakan bahwa seseorang mwmpunyai kebutuhan yang berhubungan dengan tempat dan suasana di lingkungan bekerjanya, yaitu : upah yang layak, kesempatan untuk maju, pengakuan sebagai individu, keamanan bekerja, tempat kerja yang baik, penerimaan oleh kelompok, perlakuan yang wajar, pengakuan atas prestasi

j.Teori Proses ( Process Theory )
Teori proses ini pada dasarnya berusaha untuk menjawab pertanyaan, bagaimana menguatkan, mengarahkan, memelihara, dan menghentikan perilaku individu, agar setiap individu bekerja giat sesuai dengan keinginan manajjer. Teori ini juga merupakan proses sebab dan akibat bagaimana seseorang bekerja serta hasil apa yang akan diperolehnya. Jadi hasil yang dicapai tercermin dalam bagaimana proses kegiatan yang dilakukan seseorang. Bisa dikatakan bahwa hasil hari ini merupakan kegiatan hari kemarin. Teori Proses ini, dikenal atas :
1)Teori Harapan ( Expectancy Theory )
Teori ini dikemukakan oleh Victor H. Vroom yang menyatakan bahwa kekuatan yang memotivasi seseorang untuk bekerja giat dalam mengerjakan pekerjaannya tergantung dari hubungan timbal balik antara apa yang diinginkan dan dibutuhkan dari hasil pekerjaan itu. Teori harapan ini didasarkan atas :
Harapan ( Expectancy ), adalah suatu kesempatan yang diberikan akan terjadi karena perilaku.
Nilai ( Valence ) adalah akibat dari perilaku tertentu mempunyai nilai / martabat tertentu ( daya/nilai motivasi ) bagi setiap individu yang bersangkutan.
Pertautan ( Instrumentality ) adalah persepsi dari individu bahwa hasil tingkat pertama akan dihubungkan dengan hasil tingkat kedua.

2)Teori Keadilan ( Equaty Theory )
Keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi semagat kerja seseorang, jadi atasan harus bertindak adil terhadap setiap bawahannya. Penilaian dan pengakuan mengenai perilaku bawahan harus dilakukan secara objektif.

k.Teori Pengukuhan ( Reinforcement Theory )
Teori ini didasarkan atas hubungan sebab dan akibat dari perilaku dengan pemberian konpensasi. Misalnya promosi seorang karyawan itu tergantung dari prestasi yang selalu dapat dipertahankan. Sifat ketergantungan tersebut bertautan dengan hubungan antara perilaku dan kejadian yang mengikuti perilaku tersebut. Teori pengukuhan ini terdiri dari dua jenis, yaitu :
1)Pengukuhan Positif ( Positive Reinforcement )
yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuh positif diterapkan secara bersyarat.

2)Pengukuhan Negatif ( Negative Reinforcement )
yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuhan negatif dihilangkan secara bersyarat.

Jadi prinsip pengukuhan selalu berhubungan dengan bertambahnya frekuensi dan tanggapan, apabila diikuti oleh stimulus yang bersyarat. Demikian juga prinsip hukuman (Punishment) selalu berhubungan dengan berkurangnya frekuensi tanggapan, apabila tanggapan (response) itu diikuti oleh rangsangan yang bersyarat. Contoh : pengukuhan yang relatif malar adalah mendapatkan pujian setelah seseorang memproduksi tiap-tiap unit atau setiap hari disambut dengan hangat oleh manajer.

E. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam pencapaian hasil belajar disebabkan oleh banyak faktor, baik yang berasal dari dalam diri siswa maupun yang berasal dari luar dirinya. Untuk memudahkan pembahasan dapat diklasifikasikan sebagaimana bagan berikut :


Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

Faktor-faktor di atas saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama yang lain. Bila aspek fisiologis siswa tidak baik maka akan mempengaruhi aspek psikologis. Begitu juga bila lingkungan ( baik sosial maupun non social ) di sekitar siswa tidak baik, maka akan berdampak pada proses dan hasil belajar. Oleh karena itu guru dan orang tua agar menciptakan situasi dan kondisi belajar yang bisa mendukung keberhasilan belajar siswa, baik di sekolah maupun di rumah.

Hukum dari motivasi mengatakan kepada kita bahwa pastisipan/peserta harus punya keinginan untuk belajar, dia harus siap untuk belajar, dan harus punya alasan untuk belajar. Pelatih menemukan bahwa jika peserta mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar atau rasa keinginan untuk berhasil, dia akan lebih baik dibanding yang lainnya dalam belajar. Pertama-tama karena motivasi dapat menciptakan lingkungan (atmosphere) belajar menjadi menye-nangkan. Jika kita gagal menggunakan hukum kesesuaian (appropriateness) tersebut dan mengabaikan untuk membuat material relevan, kita akan secara pasti akan kehilangan motivasi peserta.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan mengenai motivasi :
Material harus bermakna dan berharga bagi peserta, tidak hanya bagi pelatih
Yang harus termotivasi bukan hanya peserta tetapi juga pelatih itu sendiri. Sebab jika pelatih tidak termotivasi, pelatihan mungkin akan tidak menarik dan bahkan tidak mencapai tujuan yang diinginkan.

Seperti yang disebutkan dalam hukum kesesuaian (appropriateness), pelatih suatu ketika perlu mengidentifikasi satu kebutuhan kenapa peserta datang ke pelatihan. Pelatih biasanya dapat menciptakan motivasi dengan mengatakan bahwa sessi ini dapat memenuhi kebutuhan peserta.
Bergeraklah dari sisi tahu ke tidak tahu. Awali sessi dengan hal-hal atau poin-poin yang sudah akrab atau familiar bagi peserta. Secara perlahan-lahan bangun dan hubungkan poin-poin bersama sehingga setiap tahu kemana arah mereka di dalam proses pelatihan.

F. Upaya Membangkitkan Motivasi
Ada beberapa cara untung membangkitkan motivasi, antara lain :
Hubungkan Tubuh dengan Pikiran, pernahkan anda merasa lesu, murung dan tubuh lemas. Untuk membangkitkan motivasi anda, anda harus segera bangkit dari itu semua. Ajak tubuh anda untuk bergerak cepat dan bertenaga. Lakukan sesuatu maka gairah dan semangat anda akan muncul

Ubah fokus anda kepada sesuatu yang positif. Apabila anda menanyakan kepada orang yang sedang putus asa, apakah fokus mereka? pasti mereka akan berbicara hal hal yang kecil saja dan cenderung negatif. Sebaliknya mereka yang punya semangat dalam hidup dan keyakinan untuk meraih kesuksesan maka mereka akan bilang bahwa mereka punya target yang besar dan fokus kepada hal hal yang positif. Jangan tunggu anda siap, karena semua orang sukses bermula dari cita cita yang besar dan fokus untuk mengejarnya.

Apa yang anda bicarakan, baik kepada diri anda sendiri maupun kepada orang lain. Apabila anda berbicara pada diri sendiri sesuatu yang tidak mungkin maka tubuh anda akan kehilangan energi. Apabila anda berbicara hal yang positif bahkan kepada semua orang yang anda temui maka motivasi anda akan tetap terjaga.

Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk siswa. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yangmengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilakusiswa. Ada tiga komponen dalam motivasi yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan.

Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa menyadarkan kedudukannya pada awal, proses dan hasil belajar, menginformasikan kekuatan usaha belajar, mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar, menyadarkan proses belajar kemudian bekerja. Bagi pengajar, membangkitkan, meningkatkan,memelihara semangat belajar siswa sampai berhasil, mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam ragam : acuh, tak memusatkan perhatian, bermain di samping yang bersemangat belajar, meningkatkan dan menyadarkan pengajar untuk memilih satu diantara beberapa peran : penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah atau pendidik, “unjuk kerja” rekayasa pedagogis : semua siswa berhasil, “mengubah”siswa tak minat menjadi bersemangat belajar, siswa cerdas tak berminat menjadi bersemangat belajar.



Bab III
Penutup

A. Kesimpulan
Motivasi adalah daya pendorong dari keinginan kita agar terwujud. Energi pendorong dari dalam agar apapun yang kita inginkan dapat terwujud. Motivasi Belajar adalah dorongan untuk melakukan sesuatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman, dorongan ini bisa berasal dari diri individu itu sendiri maupun dorongan karena adanya perangsang dari luar diri individu.

Motivasi erat sekali hubungannya dengan keinginan dan ambisi, bila salah satunya tidak ada, motivasi pun tidak akan timbul. Banyak dari kita yang mempunyai keinginan dan ambisi besar, tapi kurang mempunyai inisiatif dan kemauan untuk mengambil langkah untuk mencapainya. Ini menunjukkan kurangnya enrgi pendorong dari dalam diri kita sendiri atau kurang motivasi.
Motivasi akan menguatkan ambisi, meningkatkan inisiatif dan akan membantu dalam mengarahkan energi kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dengan motivasi yang benar kita akan semakin mendekati keinginan kita.

Biasanya motivasi akan besar, bila orang tersebut mempunyai visi jelas dari apa yang diinginkan. Ia mempunyai gambaran mental yang jelas dari kondisi yang diinginkan dan mempunyai keinginan besar untuk mencapainya. Motivasilah yang akan membuat dirinya melangkah maju dan mengambil langkah selanjutnya untuk merealisasikan apa yang diinginkannya.

Lakukan apapun dalam pengembangan diri anda dengan motivasi. Motivasi ini akan ada, bila ada visi yang jelas dari apa yang anda akan lakukan, mengetahui apa yang akan anda lakukan dan percaya akan kekuatan yang ada pada anda sendiri. Ia akan merupakan kunci sukses dari apapun yang anda lakukan.

Untuk termotivasi, ketahui terlebih dahulu apa yang anda inginkan selanjutnya anda harus dapat meningkatkan energi keinginan itu dan siap untuk melakukan apa saja agar keinginan dapat tercapai. Motivasi berkaitan erat dengan tercapainya sesuatu keinginan. Sering kita gagal mencapai apa yang kita lakukan karena motivasinya kurang.

Apakah hubungannya motivasi dengan emosi ? Sangat erat hubungannya. Keduanya diperlukan untuk proses tercapainya suatu keinginan. Disiplin adalah hal yang perlu agar keinginan tercapai. Untuk tetap disiplin, motivasi yang tinggi akan sangat membantu.

Dalam kehidupan kita, kita sering meniatkan untuk melakukan pengembangan atau merubah kondisi yang kita miliki, tapi sering tidak dilakukan dan berhenti hanya sebagai niat saja. Kenapa berhenti ? Itu terjadi karena kurangnya motivasi, antusiasme, keinginan, determinasi, kemauan dan disiplin.

Cobalah setelah membaca tulisan ini untuk benar-benar mengembangkan atau merubah kondisi yang tidak sesuai yang ada dalam diri anda, anda pasti bisa.
Apakah anda sudah termotivasi?

B. Saran
Makalah ini masih jauh dari sempurna. Dari segi penyusunan atau penulisan mungkin masih kurang dapat dipahami dengan baik dibanding referensi lainnya. Oleh karena itu penyusun menyarankan untuk penyempurnaan penyusunan dan pengembangan makalah ini.









Daftar Pustaka

http://www.ugmc.bizland.com/ak-ertimotivasi.htm
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/pengertian-motivasi/
http://www.mitrapulsa.com/motivasibelajar.html
http://www.idonbiu.com/2009/05/faktor-yang-mempengaruhi-motivasi.html
http://yohanestantama.com/2007/3-cara-singkat-untuk-membangkitkan-motivasi-anda/
http://www.stp.dkp.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=339:membangkitkan-motivasi-untuk-mencapai-tujuan-anda&catid=74:motivasi&Itemid=27
http://whandi.net/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=41

Senin, 16 November 2009

Preman

Preman Dalam Kajiannya

Dalam bukunya Peasant War in Germany dan Class Struggle in France , Marx dan Engels sedikit mengulas tentang lumpenproletar sebagai suatu pseudo-kelas. Lumpenproletar mencakup jembel, luntang-lantung, preman, bajingan, penjahat, dan semua orang yang terdepak dari hubungan-hubungan produksi pokok. Pengangguran miskin, pekerja serabutan yang jarang bekerja, juga bisa dimasukkan ke dalam kelas ini. Lumpenproletar tiada lain adalah ‘kelas buangan’ yang isinya campur-aduk orang dari berbagai asal-usul kelas, terutama mereka-mereka yang terdepak dari saluran-saluran penghidupan ‘wajar’, baik di pedesaan maupun di perkotaan, tanpa bisa memasuki sektor-sektor formal di perkotaan yang sedang bertumbuh dalam industrialisasi. Mereka menempati wilayah-wilayah gelap dalam gegap-gempita kapitalisasi segala sektor kehidupan. Marx memasukkan lumpenproletar ke dalam kategori ‘cadangan industrial’ atau kelebihan penduduk relatif yang memelihara tingkat penghisapan tenaga kerja oleh kapital. Menurut Marx, dalam kapitalisme lumpenproletar bisa juga menjadi alat akumulasi kapital borjuasi lewat pemerasan, pengorganisasian pengemis, atau penguasaan ekonomi gelap dan jasa-jasa ilegal seperti penyelundupan, pelacuran, perjudian, penagih utang, pembunuh bayaran, keamanan, dan sebagainya.

Dalam penelitiannya tentang blater dan aneka rupa bajingan di Madura, Abdul Rozak (2006) mengaitkan keberadaan preman sebagai satu kategori sosial dengan kondisi sosio-ekologis sistem tegalan yang dominan di Madura. Menurut Rozak, keterbatasan ekologis yang berujung pada kondisi kemelaratan di kalangan warga desa sulit dipungkiri punya andil dalam menumbuhkan ‘budaya’ preman Madura. Menjadi bandit atau blater merupakan salah satu jalan keluar dari sempitnya saluran penghidupan wajar dan memasuki ‘jalan hitam’.

Sementara itu Henk Schulte Nordholt (2002), seorang sarjana sejarah dari negeri Belanda, mengaitkan preman kontemporer dengan para jago dari masa penjajahan Belanda dahulu. Para jago tiada lain adalah bandit-bandit pedalaman yang berada di lingkaran kekuasaan lokal beserta intrik perebutan kekuasaan antarelitnya.

John M. MacDougall, dalam hasil penyelidikannya tentang ekonomi politik keamanan di Lombok, mengambil kesimpulan bahwa keberadaan preman kontemporer yang menjual jasa keamanan bagi elit-elit politik lokal kian berarti karena 1) krisis moneter, 2) terpeliharanya politik berbasis massa, dan 3) praktek-praktek otonomi daerah. Ketiga gejala tersebut memunculkan masalah sekaligus kesempatan bagi para pemimpin setempat di masa runtuhnya kekuasaan rezim totaliter Orde Baru. Otoritas kebenaran tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemerintah. Otoritas itu mengambang tanpa pijakan dan menunggu diperebutkan oleh para pemimpin setempat yang membutuhkan barisan ‘pengaman swasta’ sendiri-sendiri (MacDougall 2007). Dengan kata lain, bertumbuhnya persaingan demi kekuasaan lokal telah dilapangkan oleh politik uang dan mobilisasi politik atas preman. Pemanfaatan preman untuk mengorganisasi ‘gerakan massa’ menjadi resep penting yang dengannya elit-elit daerah membuka saluran ke sumber daya pemerintah lewat berbagai proyek.

Dalam nuansa yang tak jauh beda dengan dua sarjana di atas, Untung Widyanto (2006) mengkaji salah satu organisasi preman yang mengusung identitas kebetawian di Jakarta. Dari penelitiannya Widyanto berkesimpulan bahwa ada dua jenis preman, yakni preman kantoran atau preman berdasi dan preman jalanan. Preman berdasi biasanya sudah berorientasi hidup mewah dan memiliki “potensi berkembang menjadi mafia”. Gerak usaha preman berdasi adalah pengamanan perbankan, bisnis properti, bursa saham, perdagangan, kesehatan dan obat-obatan (narkotika). Para preman kantoran selalu terorganisasi dengan baik dan dekat dengan sumber-sumber kekuasaan. Pemimpin mereka juga biasanya, meski tidak selalu, berada di dalam jaringan kekuasaan formal entah sebagai anggota legislatif atau pejabat partai.

Berbeda dengan preman berdasi, preman jalanan bercirikan sering tidak terkoordinasi dan geraknya tidak terencana dengan baik. Aktivitas pemerasan mereka cenderung menggunakan kekerasan fisik sebagai senjata dan lebih banyak bertujuan sekadar hidup sehari-hari saja. Usaha mereka terkonsentrasi di kantung-kantung kumuh dan daerah penjahat sebagai tukang parkir, penjaga malam, atau penagih hutang berskala kecil. Mereka juga seringkali dimanfaat sebagai barisan tandingan dalam penggusuran atau demonstrasi.

Hampir semua kajian tentang preman di atas memotret preman di perkotaan. Tanpa mengabaikan arti penting aspek politik dari preman di perkotaan, artikel ini lebih mengulas preman sebagai kategori ekonomi yang akan ditelusuri sumber-sumber penghidupan dan kedudukannya dalam suatu kontinum penghidupan di pedesaan.

Asal-usul Preman

Dalam pemahaman penduduk setempat, yang dimaksud dengan preman adalah orang-orang yang ‘kerjaanya’ mengutip sejumlah uang kepada pedagang-pedagang pasar, warung-warung, dan toko-toko di pinggir Jalan Raya Kutocilik pada wajktu-waktu tertentu dengan alasan menjaga keamanan. Istilah preman atau gentho juga digunakan merujuk para bekas penjahat yang pernah malang-melintang di dunia kejahatan kota dan pernah pula dipenjara (residivis) yang pekerjaan pokoknya menjaga kegiatan-kegiatan perjudian, tempat pelacuran, dan toko-toko.

Ada dua asal-usul preman, yakni para penjahat dan pengangguran. Para penjahat berhenti berkegiatan di ‘dunia gelap’ dan memasuki wilayah pemalakan dan atau penjualan jasa keamanan yang agak lebih ‘terang’. Para penjahat kota yang selamat dari perburuan Orde Baru atas mereka di awal dasawarsa 1980-an (petrus) tidak seluruhnya kembali ke dalam dunia kejahatan. Sebagian di antara mereka yang bersembunyi di kampung halaman tetap bertahan di kampung dan menjadi tokoh di dunia preman (bdk. BrĂ¥ten 2003). Pilihan ini dimungkinkan bila desa yang tersebut berdekatan dengan pasar kecamatan atau jalan lintas kota yang ramai. Bagaimanapun, sumber nafkah preman bergantung pada keberadaan tempat-tempat usaha yang ramai tempat mereka ‘menjual jasa’.

Asal-usul perampok, pencopet, penodong, dan berjenis-jenis penjahat kota hingga sekarang belum diteliti. Namun ada kecenderungan salah satu sumber utamanya ialah para pencari kerja yang datang dari wilayah pedesaan. Mereka yang gagal berusaha di dunia halal tak seluruhnya menjadi gelandangan. Sebagian memasuki dunia kejahatan. Dari kalangan merekalah, yakni para penjahat kota yang berasal dari pencari kerja pedesaan, pasokan preman berasal.

Karena sebagian preman-preman di Wetankali berasal dari dunia kejahatan maka tugas aparat keamananlah untuk membina mereka agar tak lagi terjun ke dalam dunia kejahatan. Seperti di banyak tempat di Jawa yang umumnya diorganisasi ke dalam kelompok pemuda atau paguyuban, para preman di Wetankali sebagian besar menjadi anggota Paguyuban Wong Kutocilik yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai tempat berkumpulnya “preman dan pemuda pengangguran yang kerjanya luntang-lantung”.

Preman sebagai Pengaman Penghidupan Haram

Di pasar setempat, beberapa bentuk kegiatan molimo bisa dijumpai. Itulah sebabnya salah satu tempat mangkal preman adalah sekitar pasar. Lingkup kekuasaan preman adalah semua tempat usaha yang ada di dalam dan di sekitar pasar mulai dari lapak-lapak pedagang mingguan, toko-toko grosir di dalam dan sekitar, lapak-lapak judi mingguan, rumah bordir, kios minuman keras lokal, dan tempat parkir. Preman juga ‘menguasai’ para pencopet, pengemis jalanan, pengedar narkoba kecil-kecilan, tukang ojeg, tukang becak, kusir delman, dan calo angkutan umum yang busnya kerap mangkal di seberang pasar.

Seorang ketua preman dekat hubungannya dengan beberapa oknum polisi atau tentara dari markas setempat. Beberapa preman sering juga sekaligus seorang informan polisi. Salah satu daya tawar preman kepada para penjahat kecil-kecilan, atau bandar judi yang beroperasi di wilayahnya agar tidak lalai membayar ‘uang keamanan’ adalah ancaman dilaporkan ke pihak kepolisian. Para preman menggunakan istilah jatah untuk semua bentuk setoran dari pedagang pasar dan para penjahat molimo. Artinya, membayar uang keamanan adalah kewajiban dan mengambilnya adalah hak.

Ketua kelompok preman biasanya menempatkan dua sampai tiga anak buahnya di setiap kawasan usaha. Preman-preman ini akan menarik jatah setiap hari atau seminggu sekali dari semua yang dianggap wajib membayarnya. Setiap tengah hari, tiap-tiap preman akan menyetorkan uang keamanan kepada sang ketua. Sebelum dibagi untuk diri sendiri dan anak buahnya, sebagian jatah uang keamanan akan disetorkan kepada seorang oknum aparat polisi dan/atau tentara penghubung yang menjadi ‘atasan’-nya.

Sebagai abdi negara yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, aparat polisi rajin turun langsung ke tempat-tempat keramaian. Termasuk ke tempat-tempat perjudian atau pelacuran. Ketua preman atau orang suruhannya sigap mendatangi aparat dan melaporkan bahwa keamanan dan ketertiban terjaga sambil menyerahkan sejumlah uang jatah.

Tempat-tempat judi menjadi salah satu tempat yang sering didatangi oknum aparat karena konon paling lancar menyetor uang keamanan. Aparat yang sedang tugas piket keliling biasanya berjumlah tiga sampai empat orang. Untuk harian, preman pengaman tempat judi menyetor 10 sampai 30 ribu rupiah. Kepada tentara penjaga keamanan negara, preman memberikan uang keamanan langsung ke markas tentara setempat.

Jumlah uang setoran ke oknum aparat akan bertambah menjelang perayaan agustusan. Baik kantor polisi maupun markas tentara akan meminta jatah lebih untuk mengongkosi pengecatan kantor. Di samping itu, menjelang agustusan atau hari ulang tahun kepolisian, rumah judi, rumah bordir, dan perkumpulan preman harus menyumbang sejumlah uang untuk membiayai pertunjukan hiburan yang digelar di kantor polisi dan markas tentara.

Dalam setahun, tidak hanya pada agustusan saja preman menyetor uang lebih. Jika ada kepala kantor polisi atau komandan markas tentara yang pindah tugas, perkumpulan preman juga harus menyiapkan kenang-kenangan seperti sarung, kopyah, dan sajadah. Pada saat pertemuan Hari Bhayangkara di kantor polisi, perkumpulan preman juga wajib mencarikan dana ‘bantuan’ untuk mengongkosi pertunjukan orgen tunggal .

Mencegah pembubaran perjudian oleh aparat kepolisian adalah salah satu tugas pokok preman bagi penyewanya. Bila ada pihak dari oknum kepolisian setempat mendatangi tempat perjudian, preman yang sedang berjaga akan memberi tanda kepada bandar besar bahwa ada tamu datang. Jika tamu berniat membubarkan kegiatan berjudi, maka ketua preman akan mengajukan tawaran-tawaran damai. Pertama-tama bisa diajukannya sejumlah uang sebagai tanda perdamaiannya. Bila tamu menerima tawaran damai sejumlah 100 ribu rupiah, maka preman tersebut akan meminta kepada bandar besar sejumlah 150 ribu. Kelebihannya dipakai untuk jaga-jaga bila aparat keamanan meminta rokok.

Bila di kantor polisi ada rencana penggerebegan tempat-tempat judi, ketua preman biasanya diberitahu salah seorang oknum aparat. Beberapa jam sebelum penggerebekan terjadi, ada aparat yang menghubungi ketua preman yang akan meneruskannya ke bandar judi untuk segera membubarkan diri. Dengan populernya HP (mobilephone), pemberitahuan bisa dengan cepat dan murah disampaikan.

Bila membanding-bandingkan berbagai cerita dari para preman setempat, hubungan mereka dengan bagian intelejen kantor polisi cukup unik. Konon beberapa preman pernah ditawari menjadi intel luar. Tugasnya memberi informasi berbagai kegiatan kejahatan dan pelaku-pelakunya. Selain itu, mereka juga bertugas memberi tahu serta mengawasi bila ada residivis baru pulang kampung.

Hampir semua penggerebekan bisa ditangani preman setempat. Pembubaran perjudian yang tidak mampu ditangani preman kampung adalah operasi gabungan polisi dari kepolisian resor dan tentara dari batalyon tempur di Kabupaten Banyumas. Di satu sisi, operasi gabungan biasanya langsung ke lokasi tanpa pemberitahuan resmi ke kepolisian sektor. Di sisi lain, preman-preman setempat hanya mengenal aparat polisi setempat pula. Sedangkan dengan aparat dari kabupaten tidak pernah berhubungan sama sekali. Jadi, pada saat terjadi penggerebekan, uang sogok tidak berarti apa-apa karena tidak tahu harus dibayarkan kepada siapa. Salah-salah mereka bisa diciduk sekalian. Selain itu, jumlah personelnya juga lebih banyak. Menurut keterangan preman yang pernah menghadapi garukan operasi gabungan, sebenarnya mereka mau disuap, tapi gengsi kepada aparat dari kesatuan lain.

Preman sebagai Pengaman Kegiatan Usaha Halal

Preman-preman menarik uang penjagaan keamanan dari toko-toko dan warung di pasar dan sekitarnya seminggu sekali. Beberapa toko milik keluarga Cina menyetor uang keamanan sebulan sekali. Sebagai gantinya, ketua preman akan menggilir anak buahnya untuk menjaga pertokoan tersebut setiap malam. Preman yang sedang bertugas wajib menyingkirkan orang-orang gila atau pemabuk yang berkeliaran di sekitar warung makan. Ketika hubungan antara preman dengan pemilik warung sudah dekat, tidak jarang pemilik warung menyuruh-nyuruh preman tersebut untuk membeli sesuatu, mengangkatkan barang dari pinggir jalan, atau mengirim pesanan makanan ke kantor camat.

Di Wetankali dan sekitarnya, pelanggan setia jasa keamanan preman adalah pemilik toko-toko keluarga Cina. Mereka paling rajin dan tepat waktu membayar uang keamanan. Menurut ketua preman setempat, keluarga-keluarga Cina itu tidak banyak omong. Salah seorang kepala keluarga Cina mengetahui betul bahwa banyak preman di sekitar Kutocilik. Tapi dia tidak khawatir karena preman-preman itu terkoordinir dengan baik. Preman-preman itu juga hampir tidak pernah menagih uang keamanan di luar kesepakatan. Lagi pula tokonya dijaga dengan baik pada malam hari. “Itung-itung membayar satpam, mas’ ujar mereka.

Pada tahun-tahun gawat 1998-1999, ketika konon banyak penjarahan dan pengrusakan terhadap toko-toko milik keluarga Cina di berbagai kota, preman-preman Pasar Kutocilik berada di garis depan mengamankan pembeli jasanya. Ketua preman konon langsung turun tangan meronda pertokoan sepanjang hari. Hasilnya, tidak ada satupun toko milik keluarga Cina di Kecamatan Kutocilik yang dijarah ataupun dirusak orang. Konon, kawasan pertokoan di Kota Gombong yang banyak dimiliki keluarga Cina terbakar atau dijarah.

Selain mendapatkan uang dari kawasan pertokoan, preman juga memperoleh uang dari tukang ojeg. Caranya, ketua preman mengkoordinir para tukang ojeg dan membuatkan semacam kartu anggota. Siapa saja yang tidak memiliki kartu anggota ojeg tidak boleh berusaha di daerah Kutocilik. Jika ada tukang ojeg bukan anggota tapi menarik penumpang di daerah Kutocilik, maka motornya akan dihadang dan ongkos penumpang diambil. Di seluruh Kutocilik ada sekitar 130 tukang ojeg yang mangkal di mulut-mulut jalan masuk di tepian Jalan Raya Kutocilik dari sekitar kompleks kantor camat di sebelah barat Pasar Kutocilik sampai di kawasan pertokoan dan bengkel di sebelah timur pasar.

Preman sebagai Pengaman Perhelatan Desa

Setiap perayaan hari kemerdekaan RI, sudah menjadi kebiasaan diadakannya berbagai pertandingan olahraga untuk meramaikannya. Salah satu yang paling populer adalah pertandingan sepakbola. Turnamen sepakbola agustusan diikuti berbagai tim dari berbagai desa dan kota sekitar Kutocilik. Turnamen terutama dibiayai oleh sponsor-sponsor setempat mulai dari kantor cabang Bank Perkreditan Rakyat-Bank Kredit Kecamatan Purwokerto Utara, agen distributor minuman berenergi, toko-toko grosiran, hingga calon bupati Banyumas yang konon mempunyai basis massa di Banyumas selatan. Dari gosip yang beredar, salah satu calon bupati ini merupakan penyumbang paling besar. Konon pula, sekitar 15 juta rupiah diberikan kepada panitia hanya untuk membuat spanduk berukuran besar dan umbul-umbul bergambar calon bupati tersebut yang dapat dipasang di sekeliling lapangan sepakbola pertandingan. Nama calon bupati tersebut juga disebut-sebut oleh panitia turnamen melalui pengeras suara setiap pertandingan akan dimulai atau di waktu istirahat.

Panitia penyelenggara turnamen adalah Paguyuban Wong Kutocilik. Paguyuban ini merupakan perkumpulan pemuda-pemuda yang didirikan oleh muspika (musyawarah pimpinan kecamatan yang terdiri dari camat, kepala kepolisian sektor, dan komandan rayon militer) pada paro kedua dasawarsa 1980-an untuk menampung “kreativitas dan kegiatan-kegiatan positif generasi muda penerus bangsa”. Memang tidak semua anggota paguyuban tergolong preman pasar. Menurut salah seorang aparat desa, anggota Paguyuban ada pula yang dikenal sebagai bandar besar judi, aktivis karang taruna, aktivis partai, anak tentara atau polisi, dan sebagainya.

Turnamen sepakbola ini sebenarnya bisa diadakan di desa mana saja yang mempunyai lapangan. Penunjukan Desa Wetankali sebagai tuan rumah pelaksana bukan karena undian antartim sepakbola, maupun yang bersifat giliran. Pemilihan tersebut lebih karena letak lapangan Desa Wetankali dinilai strategis di dekat Jalan Raya Kutocilik sehingga mudah dijangkau siapa saja. Selain itu, lurah Wetankali yang baru terpilih juga memberikan berbagai kemudahan. Panitia sudah mengenal lurah Wetankali dengan baik, begitu juga sebaliknya. Beberapa tokoh (pentolan) Paguyuban adalah pendukung (botoh) lurah tersebut ketika pemilihan kepala desa Wetankali. Hubungan baik ini konon sudah dibina sejak sang lurah masih menjadi polisi yang kemudian menjabat lurah pada periode sebelumnya. Panitia dari Paguyuban juga mengajak anggota taruna karya Desa Wetankali menjadi panitia. Mereka umumnya ditempatkan sebagai penjaga tempat parkir.

Preman dan Bisnis Parkiran

Di sepanjang Jalan Raya Kutocilik sekitar satu kilometer yang dimulai dari depan Pasar Kutocilik sampai warung terakhir di sebelah timur jalan masuk Desa Wetankali, jejeran warung-warung makan berdiri menyediakan menu makan siang untuk para sopir yang lewat. Sebagian besar warung menyediakan menu khas Kutocilik, yaitu Sate Bebek. Warung-warung makan itu ada yang didirikan secara permanen seperti layaknya restoran, ada pula yang kaki lima di atas gerobak dorong. Setiap hari dari pukul 11 hingga pukul 2 siang, para pengemudi mobil yang sering melalui Jalan Raya Kutocilik silih berganti singgah sebentar untuk makan siang di salah satu warung. Mobil berbagai jenis dan ukuran mulai dari mobil boks angkutan barang, truk beroda enam, sampai truk gandeng, terparkir di tepian jalan. Tidak jarang pula tampak mobil-mobil pribadi. Di lihat dari nomor polisinya, sebagian besar mobil-mobil angkutan tersebut berasal dari luar Banyumas. Ada yang bernomor polisi D (Bandung), Z, (Priangan Timur), B (Jabotabek), H (Semarang), AB (Yogyakarta), bahkan N (Malang).

Bisnis parkiran merupakan salah satu sumber penghasilan sekelompok preman pasar. Berbekal topi dan peluit mereka bisa memperoleh puluhan ribu dalam sehari. Pengelolaan parkir tepian Jalan Raya Kutocilik dilakukan dengan bekerjasama antara preman pasar dengan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (DLLAJR). Dinas menyediakan karcis parkir berlogo resmi DLLAJR dan baju berwarna oranye berlogo Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas di lengan kiri dan bordiran lambang Kabupaten Banyumas di lengan kanan. Di saku baju juga ada bordir bertuliskan TUKANG PARKIR ditambah kartu tukang parkir resmi yang didaftar ulang setiap tahun ke kantor Dinas.

Setiap Rabu, dua orang pegawai Dinas mendatangi para tukang parkir untuk menyerahkan bundel-bundel karcis parkir baru dan mengambil uang parkiran yang menjadi bagian Dinas sebesar 25 ribu rupiah. Setiap bundel berisi 100 lembar karcis parkir. Di karcis tersebut dicantumkan pasal tentang ketentuan parkir yang diatur Peraturan Daerah No. 8 tahun 2000 tentang Parkir Jalan Umum di wilayah Kabupatena Banyumas dan nomor seri karcis yang menunjukkan tanggal dan tahun berlakunya. Ketentuannya mencakup ongkos parkir untuk berbagai jenis kendaraan. Meski pun setiap jenis kendaraan berbeda ongkos parkirnya, namun di karcis parkir hanya tercantum angka besar bertuliskan Rp. 700,-.

Di Kutocilik, paling tidak ada 3 wilayah parkir. Setiap wilayah dikelola 3 tukang parkir yang semuanya laki-laki. Tukang-tukang parkir resmi ini juga bertugas menyingkirkan tukang parkir yang tidak di bawah pengawasan Dinas. Itulah sebabnya, pengelolaan parkir diserahkan kepada kelompok preman pasar yang mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan tukang parkir tidak resmi. Menurut cerita beberapa pemilik warung sate bebek, pernah ada beberapa kasus pemuda pengangguran yang menjadi tukang parkir tidak resmi dipukuli sampai babak belur. Meski demikian, selalu saja muncul tukang parkir tidak resmi baru bila yang babak belur kapok dan menyingkir.Upaya-upaya perebutan lahan parkir bukanlah cerita baru. Paling tidak sejak pergantian ketua preman pasar yang terakhir pada pertengahan 1980-an sampai Agustus 2007 lalu, hanya ada tiga kali pergantian tukang parkir.

Kerjasama pengelolaan parkir menguntungkan kedua pihak. Dinas menerima pendapatan yang relatif lancar dari wilayah-wilayah parkir yang berada di bawah pengawasan, dan preman pasar memperoleh pengesahan dengan adanya karcis resmi dari Dinas. Karcis resmi ini penting karena sopir sering meminta bukti pembayaran parkir. Dengan memperoleh karcis parkir resmi, maka sopir bisa melampirkannya sebagai bukti pengeluaran perjalanan kerja. Kepada sopir-sopir langganan, tidak jarang tukang parkir memberi 2 atau 3 lembar karcis sekaligus meski dengan bayaran 1 karcis saja.

Setiap harinya, satu tukang parkir rata-rata bisa memperoleh uang sekitar 50 ribu rupiah pada siang ahri dan separonya pada malam hari. Semua jenis mobil ditarik 1000 rupiah. Sedangkan sepeda motor tidak wajid membayar parkir. Tukang parkir hanya memberikan karcis jika diminta pemilik kendaraan. Jika tidak diminta, karcis tetap dikantongi. Sisa karcis yang tidak diminta tersebut berguna untuk memberi sopir-sopir langganan yang meminta karcis lebih dari satu.

Biasanya mobil pribadi tidak diberi karcis, kecuali mobil-mobil berplat nomor merah milik pemerintah. Sopir kendaraan milik pemerintah merasa perlu mendapat karcis sebagai bentuk pertanggungjawaban keuangan perjalanan dinas.

Setor setiap Rabu bukan satu-satunya kewajiban tukang parkir. Setahun sekali, mereka harus membayar sewa lahan parkir sebesar 500 ribu rupiah kepada Dinas. Ketua preman yang menjadi penanggung jawab atau koordinator sekitar 10 tukang parkir berseragam, tidak perlu repot-repot mendatangi kantor Dinas di Purwokerto. Setiap tahunnya, pegawai Dinas akan mendatanginya di rumah. Transaksi penyewaan lahan parkiran dilangsungkan di rumah dan dalam suasana tidak resmi atau menurut seorang koordinator tukang parkir disebut bernuansa kekeluargaan. Menurutnya, berusaha di jalanan harus menjalin kerjasama dengan penguasa jalan secara resmi, yaitu Dinas Lalu Lintas Angkutan dan Jalan Raya. Para tukang parkir berseragam berada di lahan parkir mulai pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore. Selebihnya bisa bergantian dengan sesama tukang parkir resmi atau ditinggalkan begitu saja. Bila tidak ada tukang parkir resmi yang datang, maka tugasnya diambil alir pemuda-pemuda pengangguran yang ada di sekitar lahan parkir.

Preman, Kosmologi Penghidupan Jawa, dan Peran Aparat Keamanan

Baik budaya adiluhung kraton maupun budaya kasar luar istana merupakan pranatan-pranatan yang mengatur kehidupan orang Jawa di dalam lingkungan masyarakatnya. Pranatan ini merupakan panduan normatif dari tindakan-tindakan sosial dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat. Dunia tempat berjalannya ketentuan dan aturan kolektif masyarakat ini dalam kosmologi Jawa disebut alam padhang atau dunia terang. Dunia terang ini adalah tempat orang-orang biasa atau orang Jawa pada umumnya yang menghidupi diri dengan bertani, berdagang, atau menjadi pegawai negara. Di luar keduanya adalah tindakan-tindakan nerak pranatan yang berarti menolak ketentuan dan aturan kolektif. Orang-orang yang menolak ketentuan dan aturan kolektif ini dianggap berada di alam peteng atau dunia gelap (Suhartono 1995: 98).

Menurut Suhartono, keberadaan dunia bawah tanah alam petheng ini diketahui penghuni alam padhang. Oleh sebab itulah sudah sejak jaman Jawa Kuno ada petugas-petugas kerajaan yang menangani khusus alam petheng, yaitu kementrian kapethengan (Suhartono 1995: 98-9). Bagi penduduk Wetankali, dunia kejahatan adalah kenyataan. Dunia gelap tetaplah dunia yang ada penghuninya. Penghuninya menghidupi diri terutama dengan memasuki saluran-saluran molimo. Orang desa menyadari ada segelintir orang yang nekad mengais rejeki di dunia kejahatan. Orang tahu bahwa di pasar atau di kendaraan umum ada pencopet. Tidak sedikit cerita tentang perampok atau pencuri yang pernah atau sedang mengintai harta mereka. Orang desa tahu betul siapa saja yang menghidupi dirinya dengan berjudi, berjualan minuman keras, atau melacurkan diri. Mereka juga menyadari itulah satu dunia lain yang nyata-nyata ada dan didiami sekelompok orang.

Pelaku-pelaku penghidupan haram juga menyadari bahwa kegiatan di dunia gelap dilarang oleh hukum negara dan agama. Karena kesadaran ini pula para pelaku penghidupan haram cenderung menempatkan diri di tempat-tempat sepi, gelap, atau tertutup. Karena keberadaan mereka terlarang dan tidaklah betul-betul rahasia, maka mereka rentan sekali diganggu. Masalah-masalah seringkali datang dari petugas polisi (negara) atau kyai desa (agama) yang sesekali mencoba menutup saluran penghidupan mereka. Selain itu, gangguan juga bisa datang juga dari dalam dunia gelap itu sendiri, yaitu para pesaing yang hendak merebut atau mempersempit relung penghidupan mereka. Untuk menjaga dari berbagai gangguan ini, para pelaku penghidupan haram menyerahkan penjagaannya kepada seseorang atau sekelompok orang yang mau menghadapi masalah yang mungkin datang. Merekalah para preman kampung.
Preman kampung tidak sepenuhnya berada di dalam atau di luar dua dunia, terang dan gelap. Dari sumber-sumber penghidupan pokoknya para preman boleh dikatakan menapakkan satu kakinya di dunia terang dan satu kaki lainnya di dunia gelap. Ada preman-preman yang melindungi pelaku-pelaku kejahatan, tetapi ada pula preman yang menjadi pengaman pelaku usaha halal.

Seperti halnya pemilik warung kecil-kecilan tidak dipandang sebagai pedagang, begitu pula preman tidaklah dianggap sebagai penjahat. Mereka dianggap bekerja atau menjual modal satu-satunya yang mereka milik, yaitu keberanian berkelahi dan kemauan berhubungan dengan dunia gelap. Bagi sebagian orang, preman adalah penghubung ke dunia gelap suap-menyuap. Mereka bukanlah penghuni dunia gelap (alam petheng) tetapi berada di antara dunia terang (alam padhang) dan dunia gelap. Kemampuan amfibi ini berakar dari asal-usul mereka yang hampir semua pernah berada di dunia gelap sebelumnya.

Dari sini kita bisa menyatakan bahwa penghidupan di pedesaan tidak hanya bisa dipilah berdasarkan penggolongan yang biasa yaitu pertanian, perdagangan, dan industri kecil. Saluran-saluran penghidupan pendesaan merupakan kontinum yang merentang dari yang paling ‘terang’ seperti menjadi pegawai negeri dan pemilik sawah luas sampai yang paling ‘gelap’ seperti menjadi pencoleng, rampok, atau pelacur. Dalam rentang terang-gelap itulah ada wilayah abu-abu yang gradasi warnanya juga beragam. Di sinilah preman berada.

Kedekatan paguyuban para preman dengan aparat polisi atau tentara seolah mengungkit-ungkit kembali bangkitnya para kapethengan atau aparat desa di masa kerajaan Jawa yang mengurusi soal kejahatan dan ketertiban. Kapethengan secara resmi adalah pekerjaan halal yang tugasnya mengutip uang jalan kepada para pedagang perantara dan berbagai tempat molimo diadakan.